Foto : Media Biro Umum dan Administrasi Pimpinan

Dedikasi 38 Tahun Tanpa Cacat, Pemprov Papua Lepas Purna Tugas Asisten II M.B. Setyo Wahyudi

JAYAPURA – Suasana haru dan penuh khidmat menyelimuti Aula Gedung Negara saat Pemerintah Provinsi Papua menggelar acara Pelepasan Purna Tugas Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Setda Provinsi Papua, M.B. Setyo Wahyudi, SE., M.M. Acara perpisahan ini dihadiri langsung oleh Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, para Asisten, Staf Khusus, serta jajaran Kepala OPD di Lingkungan Pemerintah Provinsi Papua, termasuk Kepala Biro Umum dan Administrasi Pimpinan, Elpius Hugi, S.Pd., M.A. Momen ini menjadi penghormatan atas rekam jejak gemilang sang birokrat yang telah mengabdi puluhan tahun untuk tanah Papua.

Memulai karier dari bawah di Biro Hukum hingga memimpin terobosan besar di Badan Pendapatan Daerah, Setyo Wahyudi membagikan kisah panjangnya dalam mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Papua, mulai dari modernisasi sistem Samsat hingga memenangkan sengketa pajak bernilai fantastis. "Total perjalanan saya adalah 38 tahun 8 bulan sebagai ASN dan tidak pernah terkena sanksi hukuman disiplin. Tentu dalam perjalanan yang baik itu pasti ada salah, maka izinkan saya dari lubuk hati yang paling dalam menghaturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya," ungkap Setyo dengan nada bergetar menahan haru.

Di hadapan Gubernur dan jajaran kepala dinas, Setyo Wahyudi juga menitipkan pesan strategis terkait tantangan fiskal Pemerintah Provinsi Papua pasca-pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB). Ia mengingatkan bahwa kondisi keuangan Papua saat ini membutuhkan inovasi dan kerja keras ekstra dari seluruh perangkat daerah. "Kondisi kita saat ini hampir mirip dengan masa sulit di tahun 2004 karena porsi pajak kini banyak bergeser ke kabupaten dan kota. Mari dukung program Bapak Gubernur, lakukan terobosan, dan maksimalkan sektor swasta sebagai sumber untuk menaikkan PAD kita," tegasnya memberikan motivasi.

Selain dedikasi di ruang birokrasi, purna tugas ini juga didasari oleh alasan yang sangat personal dan menyentuh hati. Setyo Wahyudi mengungkapkan kerinduannya untuk kembali berkumpul bersama keluarga, khususnya untuk merawat sang ibunda tercinta yang kini telah menginjak usia 90 tahun. Dalam kesempatan tersebut, ia juga memberikan penghormatan khusus kepada sang istri yang dinilainya sukses memikul beban berat sebagai pendamping seorang abdi negara di tengah kesibukannya yang menyita waktu.

Sebagai simbol paripurnanya sebuah pengabdian yang taat asas, Setyo Wahyudi mengakhiri pidato perpisahannya dengan menyerahkan kembali kunci kendaraan dinas operasional Asisten II kepada Pemerintah Provinsi Papua. Sorak sorai dan tepuk tangan hadirin pecah saat ia melantunkan bait pantun penutup yang menggetarkan seisi Aula Gedung Negara. "Makan papeda dengan ikan tuna, hati-hati tertelan duri. Karena tugas sudah purna, izinkan kami mohon diri. Burung Papua burung cendrawasih, sampai jumpa terima kasih," tutupnya diiringi senyum perpisahan.


Share :